26 Agustus 2022

RINDU SOSOK POLISI JUJUR SEPERTI JENDERAL HOEGENG : TERINSPIRASI OLEH KEPALA POLISI ASAL SUMEDANG

PRESIDEN Abdurahman Wahid atau Gus Dur pernah berujar:  Polisi yang baik dan jujur di Indonesia itu cuma ada tiga,  pertama Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Polisi Tidur, dan Patung Polisi. 

Gus Dur memang ada-ada saja. Jangan dianggap serius, teman-teman. Tapi memang candaan Gus Dur itu diamini oleh masyarakat Indonesia.

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso
Kapolri ke-5 dalam sejarah kepolisian Indonesia

Tentu saja ada alasan mengapa Gus Dur dan masyarakat Indonesia menilai Jenderal Hoegeng sebagai contoh, teladan, atau prototipe ideal Polisi Indonesia. Dari banyak hal tentang kisah Jenderal Hoegeng, ada satu yang menarik bahwa ternyata Jenderal Hoegeng tertarik menjadi seorang polisi itu karena terpesona dan terinspirasi oleh sosok seorang kepala polisi yang bertugas di Pekalongan, yang lahir dari turunan menak sumedang. sosok itu adalah Raden Ating Natadikusumah.

Dari banyak sumber diketahui, Jenderal Hoegeng adalah Kapolri yang ke-5 dalam sejarah Polri. Beliau lahir di Pekalongan Jawa Tengah, pada tanggal 14 Oktober 1921. Saat menjadi kapolri, beliau dikenal tegas, jujur, berani, dan hidup sederhana.

Sebagai orang nomor satu di Kepolisian RI, Jenderal Hoegeng bisa melakukan dan mendapatkan banyak hal untuk memperkaya diri dan keluarganya. Tapi dia tidak. Majalah Tempo Edisi 22 Agustus 2021 menulisnya dengan baik;

"Selagi menjabat, Jenderal Hoegeng mengajarkan betapa pentingnya menjaga integritas, yakni keteguhan moral untuk mengatakan dan melakukan apa yang diyakini benar secara universal. Dia membuktikan bahwa contoh perbuatan lebih penting daripada kata-kata perintah atau bahkan ceramah yang menyerukan kebajikan," (Sumber Majalah Tempo edisi 22 Agustus 2021, halaman 31)

Ada suatu cerita yang absah, di mana Jenderal Hoegeng sempat membentak dan mengusir, seorang Cukong yang hendak menyogoknya. Saat diangkat sebagai Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal Kepolisian Sumatara Utara, tanpa sepengetahuannya, Si Cukong datang ke rumah dinas yang baru ditempati Hoegeng dan memenuhi rumah dinas itu dengan berbagai perabot rumah tangga yang mahal dan istimewa di jaman itu.  Saat Hoegeng tiba di rumah dinas itu, dia kaget dan marah;

"Tolong keluarkan Perabot yang bukan milik saya ke luar rumah dan taruh pinggir jalan!" tegas Jenderal Hoegeng sambil berlalu.

Lantas, mengapa Hoegeng Iman Santoso mau jadi Polisi?

Ayah Hoegeng, Soekarjo Kario Hatmojo, seorang Jaksa di era Hindia Belanda. Soekarjo memiliki dua orang kolega dekat saat bertugas, yakni Suprapto (Kepala Pengadilan) dan Ating Natadikusumah (Kepala Polisi). Majalah Tempo menceritakan, Hoegeng Terkesima melihat ayah dan dua sahabatnya itu saat bertugas.

Dari Ketiga Ambentar atau Pejabat HIndia Belanda itu, Hoegeng paling mengidolakan sosok Raden Ating Natadikusumah. Apalagi saat melihat Raden Ating berseragam polisi, dengan sepucuk Pistol di pinggang, dan mengendarai sepeda motor dinasnya Harley Davidson. Namun yang lebih menginspirasi Hoegeng adalah kepribadian dan sikap Raden Ating yang lurus dan berwibawa serta suka menolong rakyat pribumi.

Sebagai sesama Ambtenar, Raden Ating kerap bertandang ke Rumah Soekarjo, ayah Hoegeng. Dalam satu kesempatan, Raden Ating berpesan kepada Hoegeng.

"Sekolah baik-baik Geng, supaya bisa jadi polisi untuk membantu orang lemah dan tak bersalah," pesan Raden Ating kepada Hoegeng. (Sumber: Tempo, 22 Agustus 2021, halaman 55)

Raden Ating Natadikusumah sendiri dalam sejarah Kepolisan RI dikenal adalah Kepala Kepolisan Jakarata atau (Kapolda Metro Jaya) yang pertama. Ia menjabat dari 6 Desember 1949 Desember 1952.

Saya sendiri pertama kali mendengar nama Kombes Ating Natadikusumah ini dari uwak saya, sepupu ibu saya, yaitu Kolonel Polisi Ismail Natawijogja, sekitar tahun 1994. Namun saya masih terlalu lugu untuk serius menyimak apa yang dibicarakan uwak saya saat itu.

Selanjutnya, sebagai seorang anak priyayi, tentu hal yang mudah bagi Hoegeng untuk mendapatkan pendidikan dari mulai sekolah dasar, Holland Inslanshe School (SD), lalu  sekolah menengah atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), hingga lulus dari lulus Algemene Middlebare School (AMS) di Jogyakarta.

Pada tahun 1940 Hoegeng kemudian meneruskan kuliah di Rechtshoogeschool te Batavia atau perguruan tinggi hukum di Batavia (Jakarta Saat ini). Sayang, tahun 1942, kampus itu ditutup oleh Tentara Jepang yang datang menggantikan Belanda. Hoegeng pun pulang ke Pekalongan dan menganggur.

Namun kesempatan untuk menjadi polisi itu datang ketika Gunseikanbu atau Kantor Pusat Pemerintah Militer Jepang membuka lowongan besar-besaran untuk pemuda pribumi mengikuti Kursus Polisi. Di Pekalongan jatah rekrutmen menjadi polisi itu  hanya untuk 11 Orang. Dan Hoegeng ternyata lolos seleksi dan mengikuti kursus kepolisian. Hoegeng lalu diangkat sebagai Polis pada tanggal 25 Nopember 1943..

Singkat cerita, setelah Indonesia merdeka, ia kemudian terus menapaki karir di Kepolisian Republik Indonesia, hingga pada tanggal 5 Mei 1968, Presiden Soeharto melantiknya sebagai Kepala Kepolisian Negara, orang nomor satu di jajaran kepolian republik Indonesia.

Terlalu banyak kisah-kisah heroik dan keteladanan Hoegeng Iman Santoso dalam menjalankan darmabhaktinya sebagai polisi.  Dia adalah legenda. Dia sosok teladan. dan nama besarnya belum tergantikan dalam sejarah Korps Tribarata itu.  Dan itu barangkali didasari oleh itikad dan tekad Hoegeng untuk menjadi seorang polisi, serta sebuah do'a dari Raden Ating Natadikusumah, Urang Sumedang yang menginspirasi Hoegeng menjadi POLISI. (*)

 



Share:

0 comments:

Posting Komentar