KAWASAN PATUNG CADAS PANGERAN

Kawasan Patung Cadas Pangeran, bulan Nopember 2021 lalu

Ruas Jalan Tol Cisumdawu di Kawasan Sumedang Kota Masih Dalam Proyek Pengerjaan

Jalan Tol Cisumdawu menjadi salah satu megaproyek yang akan banyak mengubah tatanan kehidupan di Kabupaten Sumedang

Peninjauan Proyek Tol Cisumdawu oleh Kemenko Kemaritiman dan Investasi

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan saat meninjau lokasi proyek Tol Cisumdawu di Sumedang pada Bulan September 2021

WASPADA COVID-19 VARIAN OMICRON

Covid-19 Omicron mulai menyerang Indonesia. Waspadalah. Tetap tenang dan disiplin dengan protokol kesehatan

TIDAK ADA LIBUR PANJANG SEKOLAH JELANG NATARU 2022

Demi mengantisipasi penyebaran Covid-19 Omicron pemerintah menjadwal ulang kalender pendidikan sehingga tidak ada libur panjang jelang natal 2021 dan tahun baru 2022

26 Agustus 2022

RINDU SOSOK POLISI JUJUR SEPERTI JENDERAL HOEGENG : TERINSPIRASI OLEH KEPALA POLISI ASAL SUMEDANG

PRESIDEN Abdurahman Wahid atau Gus Dur pernah berujar:  Polisi yang baik dan jujur di Indonesia itu cuma ada tiga,  pertama Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Polisi Tidur, dan Patung Polisi. 

Gus Dur memang ada-ada saja. Jangan dianggap serius, teman-teman. Tapi memang candaan Gus Dur itu diamini oleh masyarakat Indonesia.

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso
Kapolri ke-5 dalam sejarah kepolisian Indonesia

Tentu saja ada alasan mengapa Gus Dur dan masyarakat Indonesia menilai Jenderal Hoegeng sebagai contoh, teladan, atau prototipe ideal Polisi Indonesia. Dari banyak hal tentang kisah Jenderal Hoegeng, ada satu yang menarik bahwa ternyata Jenderal Hoegeng tertarik menjadi seorang polisi itu karena terpesona dan terinspirasi oleh sosok seorang kepala polisi yang bertugas di Pekalongan, yang lahir dari turunan menak sumedang. sosok itu adalah Raden Ating Natadikusumah.

Dari banyak sumber diketahui, Jenderal Hoegeng adalah Kapolri yang ke-5 dalam sejarah Polri. Beliau lahir di Pekalongan Jawa Tengah, pada tanggal 14 Oktober 1921. Saat menjadi kapolri, beliau dikenal tegas, jujur, berani, dan hidup sederhana.

Sebagai orang nomor satu di Kepolisian RI, Jenderal Hoegeng bisa melakukan dan mendapatkan banyak hal untuk memperkaya diri dan keluarganya. Tapi dia tidak. Majalah Tempo Edisi 22 Agustus 2021 menulisnya dengan baik;

"Selagi menjabat, Jenderal Hoegeng mengajarkan betapa pentingnya menjaga integritas, yakni keteguhan moral untuk mengatakan dan melakukan apa yang diyakini benar secara universal. Dia membuktikan bahwa contoh perbuatan lebih penting daripada kata-kata perintah atau bahkan ceramah yang menyerukan kebajikan," (Sumber Majalah Tempo edisi 22 Agustus 2021, halaman 31)

Ada suatu cerita yang absah, di mana Jenderal Hoegeng sempat membentak dan mengusir, seorang Cukong yang hendak menyogoknya. Saat diangkat sebagai Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal Kepolisian Sumatara Utara, tanpa sepengetahuannya, Si Cukong datang ke rumah dinas yang baru ditempati Hoegeng dan memenuhi rumah dinas itu dengan berbagai perabot rumah tangga yang mahal dan istimewa di jaman itu.  Saat Hoegeng tiba di rumah dinas itu, dia kaget dan marah;

"Tolong keluarkan Perabot yang bukan milik saya ke luar rumah dan taruh pinggir jalan!" tegas Jenderal Hoegeng sambil berlalu.

Lantas, mengapa Hoegeng Iman Santoso mau jadi Polisi?

Ayah Hoegeng, Soekarjo Kario Hatmojo, seorang Jaksa di era Hindia Belanda. Soekarjo memiliki dua orang kolega dekat saat bertugas, yakni Suprapto (Kepala Pengadilan) dan Ating Natadikusumah (Kepala Polisi). Majalah Tempo menceritakan, Hoegeng Terkesima melihat ayah dan dua sahabatnya itu saat bertugas.

Dari Ketiga Ambentar atau Pejabat HIndia Belanda itu, Hoegeng paling mengidolakan sosok Raden Ating Natadikusumah. Apalagi saat melihat Raden Ating berseragam polisi, dengan sepucuk Pistol di pinggang, dan mengendarai sepeda motor dinasnya Harley Davidson. Namun yang lebih menginspirasi Hoegeng adalah kepribadian dan sikap Raden Ating yang lurus dan berwibawa serta suka menolong rakyat pribumi.

Sebagai sesama Ambtenar, Raden Ating kerap bertandang ke Rumah Soekarjo, ayah Hoegeng. Dalam satu kesempatan, Raden Ating berpesan kepada Hoegeng.

"Sekolah baik-baik Geng, supaya bisa jadi polisi untuk membantu orang lemah dan tak bersalah," pesan Raden Ating kepada Hoegeng. (Sumber: Tempo, 22 Agustus 2021, halaman 55)

Raden Ating Natadikusumah sendiri dalam sejarah Kepolisan RI dikenal adalah Kepala Kepolisan Jakarata atau (Kapolda Metro Jaya) yang pertama. Ia menjabat dari 6 Desember 1949 Desember 1952.

Saya sendiri pertama kali mendengar nama Kombes Ating Natadikusumah ini dari uwak saya, sepupu ibu saya, yaitu Kolonel Polisi Ismail Natawijogja, sekitar tahun 1994. Namun saya masih terlalu lugu untuk serius menyimak apa yang dibicarakan uwak saya saat itu.

Selanjutnya, sebagai seorang anak priyayi, tentu hal yang mudah bagi Hoegeng untuk mendapatkan pendidikan dari mulai sekolah dasar, Holland Inslanshe School (SD), lalu  sekolah menengah atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), hingga lulus dari lulus Algemene Middlebare School (AMS) di Jogyakarta.

Pada tahun 1940 Hoegeng kemudian meneruskan kuliah di Rechtshoogeschool te Batavia atau perguruan tinggi hukum di Batavia (Jakarta Saat ini). Sayang, tahun 1942, kampus itu ditutup oleh Tentara Jepang yang datang menggantikan Belanda. Hoegeng pun pulang ke Pekalongan dan menganggur.

Namun kesempatan untuk menjadi polisi itu datang ketika Gunseikanbu atau Kantor Pusat Pemerintah Militer Jepang membuka lowongan besar-besaran untuk pemuda pribumi mengikuti Kursus Polisi. Di Pekalongan jatah rekrutmen menjadi polisi itu  hanya untuk 11 Orang. Dan Hoegeng ternyata lolos seleksi dan mengikuti kursus kepolisian. Hoegeng lalu diangkat sebagai Polis pada tanggal 25 Nopember 1943..

Singkat cerita, setelah Indonesia merdeka, ia kemudian terus menapaki karir di Kepolisian Republik Indonesia, hingga pada tanggal 5 Mei 1968, Presiden Soeharto melantiknya sebagai Kepala Kepolisian Negara, orang nomor satu di jajaran kepolian republik Indonesia.

Terlalu banyak kisah-kisah heroik dan keteladanan Hoegeng Iman Santoso dalam menjalankan darmabhaktinya sebagai polisi.  Dia adalah legenda. Dia sosok teladan. dan nama besarnya belum tergantikan dalam sejarah Korps Tribarata itu.  Dan itu barangkali didasari oleh itikad dan tekad Hoegeng untuk menjadi seorang polisi, serta sebuah do'a dari Raden Ating Natadikusumah, Urang Sumedang yang menginspirasi Hoegeng menjadi POLISI. (*)

 



Share:

24 Agustus 2022

APA DAN SIAPA PANGERAN STICHTING YANG MEMBANGUN LINGGA DI SUMEDANG?

MONUMEN Lingga di tengah Alun-Alun Kabupaten Sumedang memiliki makna tersendiri bagi rakyat sumedang. Bahkan telah lama ditetapkan menjadi lambang resmi kabupaten yang dikenal sebagai "Kota Tahu" itu. .

Monumen lingga dibangun oleh Pangeran Stichting, dan didedikasikan untuk Pangeran Aria Soeria Atmadja atas jasa-jasanya.

Nah, banyak yang mengira Pangeran Stichting itu adalah seorang bangsawan dari Negeri Belanda. Bahkan masih ada urang sumedang sendiri, yang menyebutnya Pangeran Sicing, mirip nama seorang China.

LINGA di Alun-alun Sumedang, Dok Pribadi

Pangeran Aria Soeria Atmadjaatau "Pangeran Mekah",  juga mempunyai gelar sebagai "Pangeran Panungtung". itu karena Soeria Atmadja adalah Bupati Sumedang terakhir yang berhak memakai gelar "pangeran", gelar bagi raja-raja sumedanglarang.

Beliau memerintah di Sumedang Regenschap sejak 31 januari 1883 – 5 mei 1919. Konon, beliau wafat di Mekah saat melaksanakan ibadah haji pada 1 juni 1921.

Di tangan Pangeran Panungtung itulah Sumedang Regenschap berkembang pesat. Banyak program inovatif yang digagas dan dijalankan oleh Soeria Atmadja di bidang pertanian, perikanan, kehutanan, peternakan, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Salah satu inovasinya adalah sistem terasering yang digunakan untuk membuka lahan sawah dan pertanian di dataran tinggi. Maka tentu saja, bukan hanya rakyat sumedang yang menjadi lebih sejahtera. pemerintah kolonial Hindia Belanda pun diuntungkan.

Atas jasa-jasanya yang besar itulah sejumlah elit pemerintah kolonial, keluarga besar menak sumedang, perwakilan swasta, dan perwakilan warga,  kemudian berhimpun membentuk semacam kepanitiaan untuk membangun sebuah monumen sebagai "pangeling-ngeling" atau  "mengenang" keberadaan Pangeran Aria Soeria Atmadja. Lembaga kepanitian itulah yang kemudian disebut sebagai "Pangeran Stichting" dan keberadaanya direstui oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dr. Dirk Fock.

Dalam arsip koran "Preanger Bode" disebutkan, "Pangeran Stichting" adalah  "de vereeniging ter herdenking van de nagedachtenis van pangeran aria soeria atmdjada (perkumpulan yang dibentuk untuk memperingati kenangan atau mengenang jasa-jasa Pangeran Aria Soeria Atmadja)

Mereka terdiri dari; AJH. Eijken, Residen Priangan sebagai ketua, CA. De Munnick, Asisten Residen Sumedang sebagai sekretaris, dan I de Vries, pengurus Soemedangrische Afdeelingsbank, sebagai bendahara.

Lalu anggota-anggotanya terdiri dari, Tumendang kusumadilaga, Bupati Sumedang; Raden Adipati Wiratanoeningrat, Bupati Tasikmalaya; AJN Engelenberg, anggota volksraad; HCH de Bie, inspektur pendidikan; Dr. HJ van der Schroeff, seorang dokter Bangsa Belanda; AE Reijnst, ketua perkebunan di Sukabumi; Raden Kartakusuma, Wedana Tanjungsari; Mas Hadji Abdulmanan, Penghulu Tandjongsari, Raden Sadikin, guru pertanian pribumi; Sumadiria, petani/peternak, dari kalangan warga biasa, dan Tanumanggala, partikulir atau pengusaha pribumi

Empat belas nama itu pula yang tercantum dalam dokumen piagam peresmian monumen lingga tersebut.

Untuk melaksanakan rencana proyek tersebut,  Pangeran Stichting  kemudian membentuk semacam tim pelaksana.  Koran "Preanger Bode" menuliskan, tim ini melibatkan lima orang, yakni; 1) Raden Adipati Aria Martanegara, mantan Bupati Bandoeng, 2) JZ van Dijck, mantan guru di garoet, yang diminta oleh Pangeran Stichting untuk merancang desain monumen yang akan dibangun, 3) Ir. WH Elsman, seorang insinyur sipil yang ditugasi penyusunan anggaran sesuai desain  yang dibuat oleh Van Dijck, 4) Ir. H Buijs, insinyur dari de Techniche Hoogeschool te Bandung (atau ITB sekarang), yang ditugasi sebagai pimpinan pelaksana pembangunan monumen, dan 5) dr. C. Kunst, seorang biologist (dokter heewan) dari unsur pemerintah kolonial yang bertanggungjawab atas rancangan model padang rumput di sekitar lingga.

Pangeran Stichting kemudian menggalang dana dari berbagai pihak untuk merealisasikan rencana pembangunan monumen. Koran  "Preanger Bode" edisi 16 januari 1922  melaporkan, dana yang berhasil dikumpulkan mencapai lebih dari 31.000 gulden.

Dilaporkan, dalam sebuah rapat yang dihadiri oleh seluruh pengurus dan anggotanya, Pangeran Stichting kemudian memutuskan pengalokasian dana tersebut sebagai berikut; 7.000 gulden untuk pembangunan fisik monumen; 5.100 gulden untuk pembangunan taman sekitar monumen (atau alun-alun sumedang); dan 18.000 gulden kemudian didepositokan di Soemedangrische Afdeelingsbank.

Monumen yang kemudian dikenal sebagai Lingga itu akhirnya berhasil dibangun dalam waktu sekitar tiga bulan. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Drik Fock datang langsung ke Sumedang dan meresmikan Lingga pada hari Selasa, tanggal 25 april 1922.

Bagian dasar bangunan ini berbentuk bujur sangkar dan dilengkapi dengan sejumlah anak tangga serta pagar disetiap sisinya. Bangunan utamanya semacam kubus yang nampak melengkung di setiap sudut bagian atasnya. Lalu, puncaknya berbentuk kubah setengah lingkaran. Kubah lingga ini konon dapat dibuka dan menjadi akses pengambilan barang-barang yang tersimpan di dalamnya.

Pada tahun 1971, Lingga tersebut dipugar. Pahatan marmer yang bertuliskan bahasa belanda, diganti. Titimangsa pemugaran dapat dilihat terpahat dalam sebuah batu kecil di pojok bagian timur Lingga.

Sebagai catatan, dari keempat belas nama yang terlibat dalam Pangeran Stichting itu, ada nama Raden Sadikin, guru pertanian pribumi.

Beliau adalah ayahanda dari Dr. Hasan Sadikin, tokoh dan perintis Rumah Sakit Rancabadak Bandung (kini dikenal sebagai Rumah Sakit Hasan Sadikin).

Dan Raden Sadikin pun adalah ayahanda dari Letjen Marinir (purn) Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta pertama di Era Orde Baru, yang populer sebagai "Bapak Pembangunan-nya" Jakarta.  (*)

Share: