09 Februari 2022

ALI SADIKIN "SI MAUNG CANGKUDU"

 

PADA TAHUN 2010, Bupati Sumedang saat itu Dr. H. Don Murdono  didukung oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, mengusulkan Raden Ali Sadikin, atau orang Jakarta memangilnya Bang Ali Sadikin, sebagai  Pahlawan Nasional.  Tayangan ini adalah sekelumit kisah Ali Sadikin putra Sumedang, "Sang Maung Cangkudu" , yang berhasil menyulap Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Kota Metropolitan modern di jamannya.

*

Urang Sumedang yang gagah, tampan, dan cerdas itu adalah Ali Sadikin, "Si Maung Cangkudu". Ia menyulap Jakarta yang karut marut, menjadi  kota metropolitan moderen, dalam kurun waktu lebih kurang sebelas tahun masa kepemimpinannya sebagai GUbernur DKI Jakarta.

Ali Sadikin saat muda
Sumber: National Film Board Canada, 1971

Pasca negara dilanda huru hara 30 September 1965, di akhir senja kekuasaannya,  Bung Karno membuat satu keputusan cerdas:menunjuk dan melantik Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 28 Juli 1966 di Istana Negara.

Dalam benak Bung Karno:  Ali Sadidin yang dia sebuat sebagai si Kopig atau si Keras Kepala, adalah figur yang cocok untuk membangun kembali jakarta. Tak tanggung, Ia menduetkan Ali Sadikin dengan RHA. Wiriadinata, sebagai Wakil Gubernur DKI, yang juga Urang Sumedang.

Dengan kata lain, Duet Urang Sumedang itulah yang memimpin Kebangkitan Jakarta sebagai ibukota negara pasca Tragedi 1965.

Teman-teman,

Setelah Soekarno jatuh dari kursi kepresidenan, nasib politis yang harus diterima oleh para pejabat tinggi sipil maupun militer yang terkait dengan orde lama, atau yang dilantik Bung Karno adalah disingkirkan. Masuk penjara atau diasingkan ke luar negeri menjadi duta besar atau menjadi kaum pelarian yang terlunta-lunta jauh dari tanah air.

Tapi Ali Sadikin tidak. Mungkin karena beliau berlatar belakang militer KKO, bukan Angkatan Darat. Atau mungkin karena di mata Soeharto, sang pemimpin besar Orde Baru itu, Ali Sadikin secara politis relatif independen, dan masih dibutuhkan untuk menjaga masa transisi kekuasaan era Orde Lama menuju Orde Baru. Maka jadilah ALi Sadikin seorang Sunda, sebagai minoritas di tengah-tengah gerbong Soeharto yang berlatar Jawa. Tapi ulah salah, Hiji Oge Maung !

Ya...Ali Sadikin berjuluk Maung itu lahir di lingkungan Cangkudu, sebuah kawasan sejuk sebelah barat alun-alun Kota Sumedang, yang berlatar Gunung Palasari, dan rimbun oleh pepohonan Benteng Gunung Koenjti .

Rumah Keluarga Raden Sadikin itu berada di Jalan Raden Suyud, Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Sumedang Selatan.

Raden Sadikin adalah seorang Guru Sekolah Pertanian yang didirikan oleh Pangeran Soeria Atmadja. Dia memiliki lima anak. Anak pertamanya, seorang dokter, bernama Hasan Sadikin, yang kemudian kita tahu diabadikan menjadi nama rumah sakit nomor satu di Jawa Barat ini.

Dan Ali Sadikin adalah Putra Ketiga Raden Sadikin, lahir di Sumedang 7 Juli 1927. Ia menghabiskan masa kecil nya di Sumedang. Bersekolah di SD Jonggol (yang sekarang menjad SD Negeri Sukaraja) lalu berlanjut ke SMP Negeri 1 Sumedang.

"Ketika masih kecil sudah dikenal dengan sebutan Maung Cangkudu. Sifat tegas dan kepemimpinan sudah terlihat sejak kecil," kenang Umu Salamah atau Rd Ayu Salamah Gilang Purnama, teman sepermainan Ali Sadikin saat diwawancarai oleh wartawan, pada tahun 2010.

Di masa pendudukan Jepang, ALi Sadikin masuk Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang. Pasca Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Ali segera bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat bagian Laut, yang menjadi cikal bakal TNI Angkatan Laut. Kemudian ia dikirim ke Tegal, membentuk basis pangkalan TNI AL dan Korps Marinir pertama.

Satu cerita yang menunjukkan keberaniannya dalam bertempur melawan agresi militer Belanda adalah ketika dia dengan gagah berani, berlari ke garis depan sambil memberondongkan peluru dari sten gun-nya. Kawan-kawan seperjuangan Ali menyebut hal itu sebagai "Gaya Holywood" dalam bertermpur.

Selanjutnya, di masa orde lama, tahun 1963 hingga 1966, Ali menduduki jabatan Menteri Perhubungan Laut sekaligus Menteri Koordinator Urusan  Maritim. Sampai kemudian tanggal 28 Juli 1966 Presiden Soekarno melantiknya sebagai Gubernur Jakarta. Pada momentum inilah Kepemimpinan Ali Sadikin Si Maung Cangkudu itu, benar-benar teruji, dan nyata terbukti.  (*/gelagat.id)

Share:

0 comments:

Posting Komentar