20 Desember 2021

KENAPA SUSANTI? BUKAN SI UNYIL ?

DULU, anak-anak Indonesia tahun 1980-an sangat akrab dengan "Si Unyil".  Bahkan tokoh "Si Unyil" dalam film boneka yang ditayangkan Stasiun TVRI itu sepertinya menjadi identitas  Anak-Anak Indonesia di zaman itu.

Memasuki era 2000-an, sosok "Si Unyil" nampaknya tergeser oleh "Upin dan Ipin",  dua tokoh kembar dalam serial kartun "Upin dan Ipin", yang menjadi simbol anak-anak kampung di Negeri Jiran Malaysia.

Sementara itu, dalam dunia olahraga sepakbola, rivalitas antara Tim Nasional Indonesia yang berjulud "Skuad Garuda" dengan Timnas Malaysia yang berjuluk "Harimau Malaya" berlangsung sengit sejak dulu. Orang-orang menyebutnya "Derby Melayu".

Nah, dalam gelaran Turnamen AFF Suzuki Cup 2020, persaingan sengit terjadi lagi karena Indonesia dan Malaysia ada dalam satu grup. Dan pada pertandingan terakhir, Minggu (19/12/2021), "Skuad Garuda" menekuk "Harimau Malaya" dengan skor telak 4-1, sekaligus menyingkirkan  Malaysia dari turnamen.

Rivalitas kedua supporter timnas pun ramai dan panas di jagad maya. Barangkali karena pembatasan kapastias stadion akibat pandemi Covid-19, maka para supporters pun beradu meme dan bersilang komentar di media sosial.

ILUSTRASI

Uniknya, para supporters pun "saling serang" dengan bahasa simbol, menyeret tokoh "Upin dan Ipin" ke dalam "persaingan tersebut".

"Upin dan Ipin" jadi simbol Timnas Malaysia. Sementara "Susanti",  salah satu peran pendukung dalam FIlm Kartun Si Kembar "Upin dan Ipin" itu, menjadi simbol Timnas Garuda. Itu karena peran Susanti sebagai pendatang dari Jakarta yang menjadi teman Upin dan Ipin dalam cerita film kartun yang sangat digemari anak-anak di Malaysia dan Indonesia itu.

Dan setelah pertandingan terakhir Grup B AFF Suzuki Cup 2020 yang dimenangkan Skuad Garuda tersebut, maka seketika  meme dan gambar bertema "Susanti  Kalahkan Upin Ipin" menjadi viral di media sosial.

Hehehe.... supporter bola memang ada-ada saja.

Bagi saya sendiri, muncul sebuah pertanyaan, kenapa harus Susanti? Bukan Si Unyil? Yah..mungkin karena saya bocah tahun 1980-an. Tapi persoalannya bukan itu. Kenapa anak-anak Indonesia lebih mengidolakan Upin dan Ipin?  Tak sanggupkan para kreator dan sineas Indonesia zaman ini menciptakan tokoh fiktif bagi anak-anak seperti  Si Unyil di era 1980-an?  

Di rumah, saya senang ketika anak bungsu saya menyukai film kartun "Nusa dan Rara". Alhamdulillah..meski memang dia pun berjingkrak-jingkrak depan layar kaca saat tayar seril Upin dan Ipin. Demikianlah.  (*/gelagat.id/kurniawan)

Share:

1 comments:

  1. Zaman-na mungkin Wa, kartun Unyil sepertinya sudah ada juga, tp kurang tenar krn kurang digarap dengan serius, kualitas gambar na oge krg bagus. Tp kita patut bangga dengan film animasi lainnya seperti Nussa Rara, Adit & Sopo Jarwo, dll. Cuma satu kelemahan nya, ceritanya kadang masih monoton atau hanya sketsa pendek, belum mengusung suatu alur cerita panjang nan menarik.

    Di salah satu episode Upin Ipin memang pernah menceritakan Timnas Indonesia vs Malaysia, dimana Upin Ipin cs vs Susanti sebagai suporter masing-masing tim. Tp mereka ttp santun dab saling bersahabat, itu harusnya perilaku supporter, boleh dukung tapi siap menang dan kalah.

    BalasHapus