14 Desember 2021

BIOSKOP PACIFIK Riwayatmu Kini

 AWAL dekade 1920-an, industri  film saat itu memang sedang menjadi industri hiburan mutakhir yang digemari dan berkembang pesat, meski baru sebatas film noir atau film bisu. Yang paling populer adalah film-film yang dibintangi Charlie Chaplin .

Di belahan bumi Hindia Belanda pun tak ketinggalan. Di Sumedang Regentschap atau Kabupaten Sumedang di masa kolonial, tersebutlah seorang busines man atau saudagar belanda bernama Meneer Boose.

Sebagai seorang saudagar, naluri bisnisnya mendorong ia untuk mendirikan sebuah gedung bioskop di berbagai kota di Preanger atau Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Sumedang.  Di Kabupaten yang berjuluk Paradis van Java itu, Mener Boose membangun sebuah gedung bioskop, di tepi bagian selatan Sungai Cipeles, dekat dengan jembatan. 

Gedung bioskop selesai dibangun dan mulai digunakan pada tahun 1928. Diresmikan oleh Bupati Sumedang, Tumenggung Kusumadilaga atau Dalem Bintang. Oleh pemiliknya, Gedung itu diberi nama "Pacifik". Namun konon, warga Sumedang di masa itu, lebih populer menyebutnya sebagai Gedong Boose atau Gedong Meneer Boose.

Gedung bekas Bioskop Pacifik di Sumedang kini dirombak jadi Factory Outlet 

Ini adalah foto penampakan Gedung Bioskop Pasifik di tahun 1947. Arsitekturnya khas. pada bagian muka bangunannya seperti buritan kapal layar. Ada bagian yang menjulang di bagian depan, yang beribarat tiang layar. Dan bagian belakang didesaian seperti sebuah badan kapal layar secara keseluruhan. Bentuk arsitek bangunan seperti itu sepertinya jadi trend di gedung pertunjukan di masa itu.

Ketika Pemerintahan Kolonial Belanda Berakhir pasca kedatangan  Jepang di tahun 1942, Bioskop Pasifik itu beralih fungsi menjadi Gedung tempat pertunjukan Kesenian Rakyat. Atau sesekali digunakan untuk memutar film-film propanda Jepang yang sedang menggalang dukungan untuk Perang Asia Timur Raya. Nama Pasifik itu pun kemudian diganti menjadi Gedung "Sakura".

Lalu pada tahun-tahun awal pasca kemerdekaan Republik Indonesia, terjadi nasionalisasi terhadap aset-aset peninggalan  masa kolonial, termasuk Gedung Boose itu. Statusnya kemudian dinyatakan sebagai aset  negara milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namanya berubah menjadi Gedung Kutamaya. Tuan Boose sendiri sejak kedatangan Jepang, sudah pulang ke Negeri Belanda.

Kawasan Gedung Pacifik tampak atas. Nampak Sungai dan Jembatan Cipeles 

Menurut penuturan kakek saya, di awal dekade 1950-an, Gedung Kutamya pernah pula dijadikan tempat pertunjukan sandiwara Mis Tjitjih.

Selanjutnya, sekitar tahun 1970-an, seorang pengusaha bioskop asal Sumedang, kemudian mengelola gedung itu, dan  mengembalikan namanya ke semula yaitu Pacifik. Sejak saat itu, namanya tak lagi berubah, hingga memasuki milenium baru.

Di tahun 1980-an, Warga Sumedang mengenal bioskop itu sebagai spesialis film India.  Jika mau nonton akting Ambita Bachan, Hemamalini, Danmendra, dan banyak artis-artis boliwod lainnya, Bioskop Pasifik adalah tempatnya. Paling sesekali saja memutar film Indonesia. Mau nonton di kursi kelas satu atau kelas dua, tergantung uang di saku. Kelas Satu biasanya masuk di pintu depan. Sementara kelas dua, masuk dari samping kanan Gedung itu.

Saya teringat beberapa kali pernah diajak orang tua menonton di Bioskop itu. Dan ketika saya menginjak remaja di tahun 1990-an, saya sudah tak pernah lagi menonton film di situ. Perilaku penonton yang aneh-aneh saat film diputar, membuat citra bioskop itu turun drastis, dan kumuh.  Apalagi film-film hits 90-an baik produksi dalam negeri maupun hongkong dan holywod, diputar di Bioskop Diana atau SIndangraja Theater, dua bioskop yang juga dikelola oleh pengusaha yang sama.

Hingga akhirnya saat memasuki milenium 2000, industri film dan bioskop di Indonesia mengalami kolaps dan luluh lantak.  Bioskop Pasific pun Gulung Tikar disusul oleh dua bioskop lainnya. Tahun 1999, Pengelola bioskop mengembalikannya kepada Pemprov Jawa Barat.

PT. Jasa Kepariwisatan, BUMD milik Pemprov yang mengelola gedung bekas bioskop pasifik itu, pada awal dekade 2000-an, kemudian menyewakannya kepada pengusaha sandang dan pakaian berlabel "Duta Pasar Raya".  MEski labelnya berubah, tapi Urang Sumedang tetap menyebutnya sebagai Gedung Pacifik. 


Arsitektur utama bangunan itu memang tidak dirubah. Tapi interiornya, seperti gerbang bagian depan yang terbuat dari besi, telah dibongkar. Loket penjualan dihilangkan. Buffet kantin jajanan bagi penonton tak ada lagi. Dan lantai ruangan yang menurun, khas gedung teater, dirubah menjadi datar.

Hingga tahun 2011, setelah habis masa sewa Duta Pasar Raya, gedung itu kemudian disewakan kepada pengusaha tempat hiburan, dan menjadikannya sebagai Tempat HIburan Karaoke dengan nama "Pasifik Hariring".

Perubahan interior gedung itu pun diperluas. Lantai dua yang dulu jadi tempat pemutaran reel film, di perluas dan di tata menjadi room karaoke. Sementara lantai satu dijadikan tempat nongkrong dan panggung pementasan kesenian.

Ironisnya, meski "Sumedang PUser Budaya Sunda" sudah dicanangkan sekitar tahun 2009, dua tahun sebelum "Pasifik Hariring" itu berdiri, sepengetahuan saya, jarang sekali pementasan kesenian sunda atau tradisional sumedang dipentaskan di gedung itu.  Ah entahlah...

Kini, Gedung Boose itu, disewa oleh pengusaha sandang dan pakaian lagi, dijadikan factory outlet, produk pakaian jadi. Namun perombakan terjadi hingga arsitektur utama di bagian depan yang menjadi ciri khas Gedung Itu dirombak total.

Pemerintah Kabupaten Sumedang memang tidak diam, dan berusaha menyelematkan gedung itu untuk dijadikan sebagai Heritage. KOnon, pemkab telah berkali-kali mengajukan kepada pihak terkait agar bisa menggunakan gedung tersebut sebagai  gedung pusat kebudayaan dan kesenian Sumedang.

Maklum,  Sumedang PUser Budaya Sunda, dengan jargon tina agama urang napak, tina budaya urang ngapak, sudah menjadi peraturan daerah.

Namun, apa hendak dikata. Kapital yang berbicara. Siapa punya uang di situ ada barang.  Pemilik cari pemasukan, pengusaha cari keuntungan.

Tradisi dan nilai-nilai pun tak berkutik. Lembaga-lembaga yang berkepentingan pun nyaris tak terdengar. Seniman dan budayawan pun nampaknya memilih diam, apalagi kondisi  terasa pengap. Mungkin karena terlalu lama harus memakai masker.

Ya apa boleh buat.... Kebutuhan zaman, perubahan perilaku banyak orang, dan kepentingan bisnis jauh lebih kuat dibanding semangat untuk menjadikan gedung itu sebagai salah satu heritage penting di Sumedang.

 Tapi mari kita lihat kasus yang hampir sama di Kota Bandung. Ketika ada rencana mengalihfungsikan Gedung Bekas Bioskop Dian yang  juga gedung peninggalan masa kolonial, yang letaknya di samping pendopo di sekitar alun-alun Bandung, Seniman dan Budayawan Kota itu bergerak.

Meski sama-sama merasakan dampak pandemi Covid-19, namun dipelopori dengan Gelar Pameran Seni Rupa Karya Tisna Sanjaya akhir Tahun 2020 lalu, mereka mengambil inisiatif ikut menjaga dan melestarikan bangunan cagar budaya.

Hasilnya, PT. Jaswita Jawa Barat pun sebagai pemilik Gedung Itu akhirnya melibatkan seniman dan budayawan untuk sama-sama mengelola aktifitas seni dan budaya di gedung itu.

Lantas di Sumedang?  yang menyatakan diri sebagai Puseur Budaya? Hmmmm...demikianlah...hehehehe.. (*/krn)

Share:

0 comments:

Posting Komentar